Detective Conan: The Scarlet Bullet – Sinopsis dan Ulasan

Detective Conan: The Scarlet Bullet – Sinopsis dan Ulasan

Detective Conan: The Scarlet Bullet adalah film ke-24 dari seri Case Closed yang diadaptasi dari manga populer berjudul sama karya Gosho Aoyama. Film layar lebar Detective Conan  ini kembali disutradarai oleh Tomoka Nagaoka serta dibintangi oleh para seiyuu kenamaan (sebutan untuk para pengisi suara di Jepang), seperti Minami Takayama, Megumi Hayashibara, Minami Hamabe, Rikiya Koyama, Atsuko Tanaka, Shuichi Ikeda, dan masih banyak lagi.  Perlu diinformasikan sebelumnya, film ini sebenarnya dijadwalkan rilis tahun lalu, namun terpaksa diundur karena pandemi Covid-19.

15 tahun yang lalu, saat penyelenggaraan ajang olahraga internasional bergengsi, World Sports Games (WSG), yang diadakan setiap empat tahun di Boston, Amerika terjadi kasus pembunuhan terhadap salah satu petinggi pihak sponsor. Tewas ditembak, korban ditemukan di sebuah gerbong kereta api cepat.

15 tahun kemudian, WSG akan diselenggarakan di Tokyo. Media juga memusatkan perhatian pada kereta HyperLinear yang mampu mencapai 1.000 km / jam dan peluncuran layanannya pada hari pembukaan WSG. Orang-orang yang bisa naik adalah mereka yang menang undian dan para eksekutif.

Namun banyak insiden terjadi di mana petinggi eksekutif perusahaan sponsor WSG diculik tetapi kemudian segera dibebaskan Ketika Conan mengetahui tentang Alan McKenzie, mantan kepala FBI dan sekarang ketua WSG menjadi korbannya, ia mulai menduga bahwa peristiwa ini ada kaitannya dengan kasus 15 tahun yang lalu. Penyelidikan ini ditangani oleh FBI. Untuk itu pada kasus kali ini, FBI bertindak. Shuichi Akai, sniper di organisasi ini bertugas menghabisi nyawa si pelaku. Tapi dalam misinya kali ini, ia tidak sendirian. Tanpa sadar Akai dibantu oleh keluarganya.

Bagi yang tidak familiar dengan serinya mungkin akan sedikit sulit untuk memahami beberapa penokohan karakternya. Meski sejatinya sebelum The Scarlet Bullet ini, secara khusus sudah ada The Scarlet Alibi, yang memaparkan identitas dan misteri masing-masing keluarga Akai, para karakter yang memainkan porsi cukup penting di babak kali ini.

Tapi dari kacamata penulis sendiri, yang juga tidak terlalu familier dengan perkembangan kisah Detective Conan terkini, dan belum sempat menyaksikan The Scarlet Alibi, hal itu tidak menjadi masalah, karena tidak mengganggu keseluruhan jalan ceritanya.  Hal ini dikarenakan Detective Conan: The Scarlet Bullet disajikan sebagai cerita standalone, atau dapat digambarkan sebagai chapter event yang dikompilasi menjadi film standalone.

Film babak ke-24 Detective Conan di layar lebar ini juga masih mengusung formula lamanya, yakni memadukan logika cerita dengan aksi berlebihan yang melenceng dari konteks logika dan akal sehat alur kisahnya. Hal inilah justru yang menjadi daya tarik tersendiri di film-film layar lebar seri ini.

Dari segi presentasi, animasi dan pemilihan setting latar membuat film ini terlihat memukau secara visual. Dibandingkan dengan film sebelumnya (babak ke-23 yang berjudul The Fist of Blue Sapphire yang juga diarahkan Nagaoka-red), hasil garapan Nagaoka di The Scarlet Bullet jauh lebih baik. Hal ini terasa dengan alur kisah yang lebih asyik diikuti dan pace yang terjaga baik hingga paruh akhirnya. Penuangan konflik dan proses pengungkapannya pun terasa begitu mengalir.

Meskipun kadang-kadang terasa membingungkan (terutama untuk kalangan awam-red), film itu benar-benar menyenangkan dan penuh petualangan. Jangan khawatir jika Anda tidak terbiasa dengan jalan cerita sebelumnya karena itu tidak akan benar-benar memengaruhi pengalaman menonton Anda. Setelah menonton ini, Anda mungkin penasaran untuk melihat sisa materi Detective Conan yang ditawarkan.

Detective Conan: The Scarlet Bullet dapat disaksikan di bioskop mulai 21 April 2021