Film Voyagers: Sinopsis dan Ulasan

Film Voyagers: Sinopsis dan Ulasan

Film Voyagers karya paling anyar dari penulis / sutradara Neil Burger, dimulai dengan banyak pertanyaan mendalam tentang tujuan dan makna hidup, dan pada dasarnya mengedepankan plot krisis eksistensial. Dapatkah seseorang benar-benar hidup jika inti dari keberadaan orang tersebut adalah untuk melakukan beberapa tugas berulang, beranak pinak, dan, akhirnya, mati? Dalam gambaran besar, kehidupan seperti itu memiliki makna, khususnya untuk melestarikan umat manusia, tetapi makna langsung dan intim apa yang dapat diambil seseorang dari keberadaan itu?

Ini adalah premis yang menarik dan menantang, karena pertanyaan yang diajukan di sini oleh Burger adalah tema yang sangat relevan secara universal. Ditambah dengan polemik fase remaja, sejatinya  film Voyagers memiliki fondasi plot yang meski harus diakui klise, namun berpotensi menarik jika digarap secara benar.

Film Voyagers dibuka dengan prolog tentang rusaknya Bumi di masa depan, penemuan planet, gagasan untuk menghuninya, dan pembiakan serta pengasuhan anak-anak yang akan memulai ekspedisi mereka, berkembang biak di pesawat ruang angkasa, dan mati sebelum kapal tiba di tempat tujuannya, membiarkan anak dan cucu mereka menyelesaikannya. Maka, diluncurkanlah sebuah pesawat berisikan 30 anak kecil hasil eksperimen, didampingi ilmuwan bernama Richard Alling (Colin Farrell), yang dengan sukarela mengajukan diri ikut serta agar bisa membimbing dan melindungi mereka.

Sepuluh tahun ekspedisi itu berjalan, ketiga puluh awak cilik itu sudah tumbuh menjadi kaum remaja. Saat mengetahui fakta bahwa seluruh kru secara rutin mengkonsumsi substansi yang membuat pasif tanpa sepengetahuan mereka, Christopher (Tye Sheridan) dan Zac (Fion Whitehead) berhenti meminum bahan kimia tersebut.

Akibatnya, nasib ekspedisi ini berada di ujung tanduk. Saat salah satu dari mereka berkembang menjadi pemberontak, mulai mengacaukan tatanan yang sudah ada, serta memicu konflik perang saudara yang menyebabkan para kru terpecah menjadi dua kubu dalam perebutan kekuasaan berdarah.

Setelah menyaksikan filmnya, sulit untuk tidak mengaitkan film Voyagers dengan film adaptasi novel karya masterpiece William Golding, Lord of the Flies. Pasalnya, aspek utama cerita film ini begitu mirip, yang rasanya –bagi yang sudah tahu Lord of the Flies – mustahil jika menganggap Burger tidak terispirasi dari situ. Meski di filmnya ini setting lokasinya berpindah dari pulau terpencil menjadi pesawat penjelajah angkasa, dan berlatar serta berteknologi masa depan, premis yang dikedepankan adalah upaya para anak-anak muda membentuk kemasyarakatan mereka sendiri – dengan konsekuensi tragis. Pendeknya, film Voyagers tidak ubahnya adalah Lord of the Flies in Space.

Film Voyagers dikemas oleh Burger dengan pendekatan film aksi sci-fi B movie, yang lebih mengedepankan konflik yang lebih terlihat dan lebih sederhana untuk ditangani para karakter ini, alih-alih menjadi film tipe perenungan yang kompleks. Film ini masih memiliki beberapa pertanyaan berharga untuk dihadapi, terutama tentang kualitas dasar manusia sebagai individu dan dalam masyarakat, namun lebih memilih menyelesaikan semua masalah dan pemikiran ini dengan konklusi yang klise.

Di dalamnya ada sedikit misteri yang coba disisipkan Burger guna menambah bumbu ketegangan cerita, namun harus diakui, efeknya tidak terlalu besar dan mengejutkan. Di sini juga ada beberapa referensi yang sejatinya memertanyakan mengenai kehendak bebas, tapi film Voyagers paling efektif ketika mulai berkisah tentang perpecahan para kru, yang memecah mereka menjadi dua faksi, dengan salah satunya berusaha untuk menghabisi lawannya, dengan area pesawat menjadi medan perangnya.

Untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal negatif,  film Voyagers adalah film yang diproduksi dengan solid. Dengan beberapa desain dan set produksi yang menakjubkan, film ini memiliki estetika visual yang luar biasa. Walaupun secara keseluruhan sajiannya tidak menjadi film yang luar biasa, pilihan untuk menitikberatkan Voyagers pada faktor tensi ketegangan yang lambat laun meningkat dan permainan watak para karakternya (dengan penyelamat performa Fion Whitehead sebagai antagonis Zac) lumayan berhasil memberikan plot cerita usang sedikit lebih segar.