Serial Fate: The Winx Saga: Sinopsis dan Ulasan

Serial Fate: The Winx Saga: Sinopsis dan Ulasan

Fate: The Winx Saga, karya fantasi YA terbaru dari Netflix , adalah remake live-action dari franchise serial animasi anak-anak Winx Club rilisan Nickelodeon yang berkisah tentang kisah persahabatan dan petualangan peri-peri yang punya kekuatan sihir. Sekarang untuk versi Netflixnya ini, materi ini diadaptasi bebas dan diakomodir untuk pangsa pasar golongan usia lebih dewasa. Dengan komposisi: setting utamanya adalah lingkungan sekolah sihir yang memiliki panorama indah (berkenaan dengan lokasi syuting di Irlandia-red), sekelompok siswa yang mencoba mengungkap konspirasi terselubung yang dijaga kerahasiaannya oleh para guru, dan misteri yang menyelimuti asal-usul karakter utamanya.

Serial yang musim pertamanya berjumlah 6 episode ini merupakan sajian paling gres dari Brian Young, yang sebelumnya menggarap The Vampire Diaries. Sedangkan, untuk pemeran tokoh utamanya dimainkan oleh Abigail Cowen, yang di kancah serial Netflix dikenal sebagai salah satu pemain di Chiling Adventures of Sabrina.

Bloom adalah siswi baru yang memulai tahun pertamanya di sekolah sihir Alfea. Meski ia seorang peri, gadis remaja berambut merah ini tidak seperti peri pada umumnya, Bloom memiliki sepasang orangtua manusia biasa dan awalnya ia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah peri, hingga terjadi insiden yang menimpa orangtua non sihirnya.

Di sana, Bloom berkenalan dan menjalin pertemanan dengan empat peri teman sekamarnya: Stella (Hannah van der Westhuysen), Musa (Elisha Applebaum), Aisha (Precious Mustapha) dan Terra (Elliot Salt) (Winx Club yang asli-red), dan mulai mencoba memanfaatkan kemampuan sihirnya sebagai peri api. Saat seiring pertemanannya berkembang itulah dan juga perjumpaannya dengan para spesialis, beberapa misteri, terutama mitos mengenai asal usulnya dan ancaman besar mulai muncul di sekolah ketika teror monster yang dikenal dengan sebutan Burned Ones, yang telah lama diyakini punah, mulai menyerang orang-orang di batas magis sekolah. Bersama teman-teman barunya, Bloom mulai berusaha menyingkap tabir asal usul dirinya yang menempatkan ia bersama empat temannya dalam beberapa petualangan.

Dengan premis demikian, mudah ditebak kalau sajiannya ini tidak terpaut jauh dengan serial-serial sejenis, terutama yang mengusung unsur drama misteri supranatural dengan lingkungan sekolah sebagai setting utamanya. Satu hal lagi, kentara benar Harry Potter memberi pengaruh besar pada serial ini (Anda akan dapat mudah menemuinya-red).

Dengan hanya enam episode (terhitung pendek bahkan untuk serial Netflix), plotnya padat di setiap episode. Serial ini melakukan pekerjaan yang baik dan lumayan efektif menyeimbangkan drama remaja dengan petualangan berisiko tinggi, dan menjadikan Bloom pusat konflik saat ia mencari petunjuk tentang masa lalunya dan berusaha untuk mengendalikan sihir api yang ada dalam dirinya.

Secara keseluruhan, Fate: The Winx Saga tidaklah seburuk penilaian yang diberikan terhadapnya. Namun, harus diakui sajiannya tidak cukup kuat untuk dapat memikat ataupun sekadar menarik simpati penonton yang belum terbiasa dengan sumber adaptasinya. Padahal, Fate melakukannya dengan membuat ceritanya sendiri, dan memperbaruinya.

Jajaran pemainnya sendiri juga terlihat berusaha memberi warna pada karakter yang mereka mainkan. Sayangnya, beberapa penokohan yang sedikit menyimpang dari versi yang sudah banyak dikenal membuat mereka harus melakukan effort lebih untuk dapat meninggalkan impresi yang dalam. Dan, memang kentara kewalahan mereka untuk dapat mewujudkannya, membuat chemistry antar pemain terasa kurang halus dan kentara agak dipaksakan.

Tidak pernah benar-benar memenuhi ambisinya menjadi adaptasi untuk ‘penggemar dewasa’ dari aslinya, Fate: The Winx Saga tetap memiliki potensi untuk memikat pemirsa lebih muda yang menginginkan serial fantasi baru yang dibuat hanya untuk mereka. Namun, dengan raihan yang hingga saat ini dikumpulkan, kecil kemungkinannya lampu hijau diberikan untuk kisah kelanjutannya. Netflix sendiri belum memberi lampu hijau untuk pembuatan season keduanya, mengingat mereka biasanya menunggu tiga sampai enam minggu sebelum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal itu. Jadi, untuk dapat mengetahui jawabannya setidaknya harus menunggu hingga bulan Maret mendatang.

Fate: The Winx Saga tayang secara streaming di Netflix sejak 22 Januari 2021