The Conjuring 2 : Sinopsis dan Ulasan

The Conjuring 2 : Sinopsis dan Ulasan

Tepuk tangan sekali lagi untuk James Wan atas kinerja apiknya di The Conjuring 2 ini. Pada umumnya, sekuel dari sebuah film yang sukses secara kualitas sering mengalami hambatan berarti dalam melampaui atau bahkan menyamai pencapaian yang telah didapatkan installment pertamanya. Hanya segelintir film yang sanggup memusnahkan ‘kutukan’ tersebut, dan semakin mengerucut begitu membicarakan film dari teritori horor mengingat bukanlah perkara yang mudah untuk mengkreasi trik menakut-nakuti yang tidak sekadar pengulangan dari seri pendahulu demi memenuhi keinginan khalayak yang pastinya berekspektasi lebih.

Sulitnya menjumpai sekuel film horor dalam level “bagus” inilah yang kemudian memberi rasa sedikit skeptis menyambut kehadiran The Conjuring 2, sekalipun James Wan kembali duduk di belakang kemudi. Apa mau dikata, babak pertamanya yang diakui sebagai salah satu film memedi terbaik dalam beberapa dekade terakhir ini membuat besar kecil kemungkinan untuk sekuelnya kembali menyandang predikat tersebut.

Alhasil, tak disangka petualangan supranatural pasangan Warren ini masih memberi sensasi ketakutan yang sama dengan pendahulunya. Kemampuan Wan mengolah konsep klasiknya menjadi sajian penuh teror dengan pengambilan sudut-sudut gambar yang dinamis adalah kunci mengapa horor-horor miliknya selalu berhasil menghadirkan jeritan nyaring di gedung bioskop.

Film yang juga memiliki judul The Conjuring: Einfeld Poltergeist ini dalam kisahnya mengedepankan kasus supranatural Ed dan Lorraine Warren (Patrick Wilson dan Vera Farmiga) yang kali ini akan membawa mereka terbang ke Enfield, London untuk membantu Peggy Hodgson, seorang ibu yang memiliki empat orang anak karena rumah yang ditempatinya dihuni oleh roh jahat dan salah satu roh jahat tersebut merasuki anak perempuan Peggy, Janet Hodgson.

Dalam mengarahkan film sekuel ini, James Wan tahu benar bagaimana membangun atmosfer creepy, mengeksploitasi setiap sudut rumah keluarga Hodgson dengan maksimal, menghadirkan keseraman dari setiap ruangan yang gelap, membiarkan imajinasi penontonnya bergerak liar melihat sesuatu yang tak tampak dengan iringan-iringan scoring penyayat nyali dari Joseph Bishara, dan sinematografi brilian dari Don Burgess yang sukses memainkan visualnya dengan sangat ciamik, hingga hentakan jump scare di saat yang selalu tepat membuat teriakan keras tak terelakkan lagi.

Sejak awal bergulirnya cerita, audiens sudah mulai diperlihatkan sedikit demi sedikit teror tak kasat mata, mulai dari mobil-mobilan pemadam kebakaran yang berjalan sendiri, meja yang terdorong keras di depan mata, dan tempat tidur yang bergoyang, sampai pada pertengahan durasi filmnya, momok seram tersebut sedemikian sering diperlihatkan wujudnya, bahkan—tidak seperti pada horor kebanyakan yang hanya mengandalkan situasi sepi untuk memunculkan sosok hantunya—dalam keadaan ramai pun sang momok berani menunjukkan keganasannya guna membuat para protagonisnya berlari terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian.

Pada momen tersebutlah, seketika ada muncul perasaan “mulai terbiasa” ketika intensitas keseraman yang dihadirkan bertubi-tubi, alih-alih membuat para audiens tak tenang, melainkan malah membuatnya berani membelalakkan mata karena rasa penasaran yang tinggi. Pun begitu, di balik ketenangan tersebut, selalu ada adegan penggedor jantung yang tak terprediksi kemunculannya, dan sukses membuat audiens jera untuk memfokuskan pandangannya ke layar.

Sumber kekuatan The Conjuring 2 tidak semata-mata berasal dari keahlian sang sineas menebar rasa takut, namun juga bagaimana film ini menciptakan suasana yang dramatis. Usai adegan pasangan Warren mendarat di London, laju film sempat melambat namun tidak lantas membosankan untuk memberi ruang bernafas bagi audiens. Pada titik inilah, momen dramatik mulai tumbuh berkembang, di mana audiens diajak mengenal lebih jauh pasangan Warren.

Wan mempertebal sisi humanis dan drama sentimental untuk mendekatkan audiens dengan barisan karakter di dalam filmnya. Audiens dibuat seolah-olah mengenal baik pasangan Warren dan keluarga Hodgson di kehidupan nyata, sehingga muncul rasa simpati yang mendalam untuk mereka. Terlebih lagi, intensitas hubungan antara Ed dan Lorraine yang kali ini digali lebih mendalam, tentang seberapa besar perjuangan mereka untuk saling melindungi satu sama lain. Inilah nilai lebih bagi The Conjuring 2 dibanding kebanyakan film horor masa kini. Injeksi solid yang makin menambah kualitas The Conjuring Universe.

The Conjuring 2 dapat disaksikan secara streaming di Netflix