The Queen’s Gambit: Beth Harmon Sebagai Representasi Gender dan Budaya Patriarki

The Queen’s Gambit: Beth Harmon Sebagai Representasi Gender dan Budaya Patriarki

Ketika membicarakan sebuah gender, maka perempuanlah yang sangat erat disangkutpautkan dengan hal tersebut. Mengapa perempuan? Lusia Palulungan, M. Ghufran H., dan Kordi K. Muhammad Taufan Ramli, dalam buku berjudul Perempuan, Masyarakat Patriarki & Kesetaraan Gender (2020), menyebutkan bahwa perempuan memiliki identitas sosial yang dilekatkan secara turun-temurun, terus-menerus, berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan berubah dari waktu ke waktu. Identitas sosial yang sering dilekatkan kepada seorang perempuan juga menyesuaikan dengan kebutuhan atau kepentingan tertentu.

Apakah gender dapat berperan sebagai sebuah identitas cabang olahraga? Sepertinya hal tersebut sangat menarik untuk kita bahas. Dalam serial Netflix berjudul The Queen’s Gambit, karya fiktif yang disutradarai oleh Scott Frank dan diangkat dari novel karangan Walter Tevis, bercerita dengan latar waktu 60-an. Kita akan melihat sosok perempuan yang bernama Elizabeth Harmon (Anya Taylor-Joy), yang bermain olahraga catur. Pada saat itu, olahraga tersebut didominasi oleh laki-laki.

Elizabeth Harmon, yang biasa disapa “Beth,” merupakan pemeran utama dalam serial ini. Beth sudah merasakan pahitnya kehidupan sejak usia dini. Ditinggal pergi oleh ayahnya, dan menjadi saksi kematian ibunya sendiri, merupakan hal yang sangat tragis untuk semua orang, apalagi untuk Beth yang kala itu masih berusia lima tahun. Hidup sebatang kara, Beth harus tinggal di sebuah panti asuhan khusus perempuan kristen bernama “Methuen Home.”

Trauma akibat kejadian masa lalunya itu membuat kepribadian Beth sangat dingin dan tertutup. Dia sulit sekali membaur dengan anak-anak panti asuhan lain. Hanya Jolene (Moses Ingram) yang kerap menyapa dan ingin berteman dengan Beth kecil. Ada suatu rutinitas yang dilakukan di panti asuhan ini: semua anak akan diberi dua butir pil berwarna merah dan hijau setiap harinya. Pil merah untuk vitamin, dan pil hijau untuk penenang. Jolene menyarankan Kepada beth untuk menyimpan pil hijau, dan menelannya saat sebelum tidur saja.

Suatu ketika, Beth yang sedang membersihkan penghapus papan tulis tidak sengaja melihat petugas kebersihan, Mr. Shaibel (Bill Camp), sedang bermain catur seorang diri. Beth penasaran dengan apa yang dilakukannya, tapi tak berani menegur dan menanyakan apa yang sedang dimainkan oleh Mr. Shaibel. Sebelum tidur, ia menelan pil hijau dan mengkhayalkan papan catur yang ia lihat diruang kebersihan. Keesokan harinya, Beth kembali ke ruang kebersihan untuk membersihkan penghapus dan melihat Mr. Shaibel bermain catur.

Beth kecil sangat tertarik dengan permainan catur. Ia meminta Mr. Shaibel untuk mengajarkan permainan tersebut. Tentu saja petugas kebersihan menolak permintaan itu. “Girls do not playing chess!,” itulah yang dikatakan Mr. Shaibel kepada Beth. Pasalnya permainan catur tidak pantas dimainkan oleh seorang perempuan, apalagi anak kecil. Catur dianggap permainan laki-laki dewasa, dan perempuan tidak punya kapasitas untuk bermain. Terus memaksa, akhirnya Beth diperbolehkan bermain.

Beth menjadi terobsesi dengan permainan papan itu. Bahkan di sela-sela waktu sebelum tidur, ia terus menelan pil hijau sembari berimajinasi dan membayangkan permainan catur. Singkat cerita, di usia sembilan tahun, Beth mampu mengalahkan semua anggota klub catur di sekolah menengah setempat. Saat umurnya beranjak 13, ia diadopsi oleh sepasang suami istri. Setelah itu, Beth mulai mengikuti berbagai turnamen catur.

Dalam karir sebagai pemain catur, Beth sangat berprestasi, Ia memenangkan berbagai kompetisi, seperti kejuaraan negara bagian, tingkat nasional, bahkan dunia. Di awal kariernya sebagai pemain catur kelas dunia, Beth dipandang sebelah mata. Ia dinilai oleh media bukan dari kemampuan caturnya, melainkan dari jenis kelamin, segi fisik, serta pakaian. Di salah satu scene dalam The Queen’s Gambit, Beth digambarkan tidak senang dengan apa yang diberitakan media. Ia berkata “It’s all see being I’m a girl.” Media melupakan semua prestasi dan pengalaman Beth Harmon untuk menjadi seorang pemain catur kelas dunia. Hal itu seharusnya tidak terlalu penting untuk diberitakan; semua kisah yang diceritakan Beth tidak ada separuh yang ditulis oleh media.

Dari sinopsis The Queen’s Gambit di atas, kita bisa melihat bahwa aspek-aspek patriarki sangat kental dalam serial ini. Nawal El Saadawi, dalam buku berjudul Perempuan Dalam Budaya Patriarki (2001), menyebutkan bahwa wanita bukan lagi manusia yang utuh adalah wajar dalam sebuah masyarakat di mana kaum wanita telah kehilangan unsur-unsur pokok kepribadiannya yang penting, kosong dari kualitas-kualitas kemanusiaannya, dan telah berubah menjadi sebuah obyek, salah satu bagian tubuh, atau sekadar alat.

Diskriminasi gender yang dilakukan oleh media, bagaimana mereka melihat perempuan sebagai obyek visual saja. Padahal, media memiliki pengaruh besar terhadap publik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lusia Palulungan, M. Ghufran H., dan Kordi K. Muhammad Taufan Ramli dalam buku berjudul Perempuan, Masyarakat Patriarki & Kesetaraan Gender (2020), menyebutkan bahwa berita yang disajikan ke publik akan diterima dan diolah oleh publik. Dan dalam penerimaan publik tersebut, terjadi perebutan dan pertarungan berbagai ideologi dan kekuasaan. Media-media besar dan jurnalis-jurnalis yang mempunyai perspektif akan membentuk opini dan mengubah perspektif publik. Tentu harapannya adalah membentuk opini ke arah yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Nah, dengan demikian, bahwa di zaman sekarang pikiran mengenai konsep perbedaan gender sudah sangat usang. Bahkan, paham patriarki pun juga telak dikalahkan dalam serial The Queen’s Gambit ini, sebuah miniseri besutan Scott Frank yang sangat menarik bagi penulis, tentang bagaimana perjuangan perempuan berhasil mendobrak stigma tentang permainan catur adalah permainan lelaki, penggambaran framing media, dan sebagainya. Karena bagi saya, semua manusia adalah setara. Akan jadi sangat menyakitkan jika hidup ini masih harus terus dibeda-bedakan, terutama perbedaan soal gender.

The Queen’s Gambit: Beth Harmon Sebagai Representasi Gender dan Budaya Patriarki Naufal Tryas Hutama, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan